Kisah Gokil di SMA

Ku tatap nanar sebuah album foto dengan sampul hijau muda di halaman depan dan sampul hitam di belakangnya. Tampak kusam dan berdebu. Perlahan jari-jemari yang lancip meraba album ini. Membekaskan noda-noda di balik kulitku. Kemudian ku buka perlahan lembaran demi lembaran. Di setiap potretnya ku pandangi satu persatu yang mengingatkanku pada masa itu. Aku berpijak pada saat itu. Masa lalu paling gokil, SMA.

Kring! Kring! Bel sekolah berbunyi. Inilah kita biar dikata bandel tapi nggak pernah telat. Seperti halnya di sekolah-sekolah lain, aku, Acha, Widi dan Vina, mempunyai geng bernama DiVA. DiVA-nya sekolahku yang berarti singakatan nama kami berempat. Devi, wIdi, Vina dan Acha.
“Ehm.. Pagi semuanya.” Sapa seorang perempuan yang memasuki ruang kelas kami, Bu Indri guru kami yang mengajarkan pelajaran sejarah.
“Yah, bosan banget gue pelajaran ini.” Kataku berbisik kepada Acha, Widi dan Vina.

Awalnya aku mengikuti pelajaran ini dengan giat, tapi lama kelamaan cerita-cerita yang dilontarkan dari bibir Bu Indri malah membuatku mengantuk. Akhirnya tanpa sadar, mataku tertutup dan aku pun tenggelam dalam tidur nyenyak di meja kelasku akibat pelajaran sejarah yang menurutku membosankan, membuat jenuh dan sejuta alasan lainnya yang membuatku memutuskan untuk tidur. Gawatnya, sebelum aku pulas tertidur Bu Indri sudah melihatku dan menegur untuk tidak melanjutkan tidurku, sorakan teman-teman pun terngiang di telingaku. Dan aku hanya memasang ekspresi stay cool saja seperti tidak ada kejadian apa-apa.

Tak lama setelah itu Bu Indri izin ke luar sebentar dari kelasku bersamaan dengan salah satu teman sekelasku yang sering kami jadikan bahan bully-an, yang mati gaya, nggak peduli gaya, semua kancing baju dimasukkan, memakai kacamata besar, gak suka diganggu, suka diam tanpa kata, pergi atau jalan-jalan sendiri, itulah dia teman culun kami, Ratna.
“Eh eh kita kerjain tuh anak yuk?” Kataku mengajak Acha, Widi dan Vina.
“Kerjain apa?” Jawab Acha tanpa mengalihkan pandangan dari handphone-nya.

Aku berpikir panjang lebar untuk menemukan sebuah ide dan akhirnya aku pun mempertegas rencanaku. “Ayo udah ikutin gue aja.”
Akhirnya Acha, Widi, dan Vina mengikuti perintahku dan mengikuti ke mana arah Ratna pergi dari belakang. Ternyata ia pergi menuju toilet yang agak jauh dari ruang kelasku.
“Dev, gue punya ide bagus nih.” Kata Vina kepada kami bertiga sambil mengulurkan kepalanya yang mendekati menandakan bahwa ia akan membisikkan ide tersebut.
“Ide bagus Vin, ah kadang lo pinter juga.” Kata Acha sambil menyenggol badan Vina.
Aku, Acha, dan Widi mengikuti aturan permainan Vina bahwa ketika nanti Ratna ke luar dari toilet tersebut Widi akan mengguyurkan air tersebut tepat pada waktu bocah culun itu ke luar dari toilet.
“Oke sekarang yaaa, satuuu, duaa, tii…gaaa!!”

Byuurrr!!!

“Mati gue..” Dengan spontan Widi langsung menjatuhkan ember yang berisi air tadi. Ia terkejut dengan apa yang dilihat di depannya. Salah sasaran. Salah tujuan. Salah nembak. Salah orang. Salah, salah, dan s-a-l-a-h. Ya, kami berempat salah mengguyukan air itu tepat pada Ratna, melainkan yang kami berikan seember air tersebut kepada guru sejarah kami, Bu Indri.
Aku, Acha, Widi dan Vina langung lari selepas kejadian ini. Kami menghiraukan teriakan Bu Indri yang menggelegar itu sambil menyebutkan nama kami berempat. Rasanya aku ingin menyebur ke sumur atau bungee jumping dari menara Eiffel tanpa tali pengaman.

Dari kejadian ini, kami berempat dipanggil ke ruang kepala sekolah dan berhadapan langsung dengan kepala sekolah. Kami berempat berjalan ke ruangan itu dengan saling menatap. Sampai di sana.
“Kalian ini gimana sih, kalian itu udah kelas 12. Seharusnya belajar yang bener, yang rajin buat UN nanti. Gak kayak gini malah main-main. Balik lagi aja ke SD kalau masih mau main-main lagi. Jangan cuma status “DiVA” aja yang buat mengeksiskan nama kalian, tapi yang harus kalian tonjolkan di sana itu adalah prestasi dari anak-anak “DiVA” yang baik. Gunakanlah waktu kalian ini sebaik mungkin, biar kedepannya nanti gak nyesel. Masih ada beberapa bulan lagi waktu kalian belajar di sini, jangan kalian sia-siakan. Saya gak mungkin mengeluarkan kalian dari sekolah ini, karena kalian ini udah kelas 3. Ubahlah sikap buruk kalian itu. Kalau kalian nggak ngerubah sikap itu saya nggak akan meluluskan kalian. Buktikan pada saya kalau kalian nanti bisa lulus dengan nilai UN yang memuaskan. Mengerti kalian?” Kata kepala sekolah panjang lebar kepada kami.
“Ngerti pak.” Balas kami menjawab dengan kompak sambil menundukan kepala diiringi tangan yang berada di depan membentuk huruf V.

Sebagai hukuman atas kejadian ini, kami berempat akhirnya diberi hukuman membersihkan toilet sekolah. Dengan penuh emosi dan rasa kecewa, saat menjalani hukuman hanyalah keheningan yang ada di antara kami. Terasa membeku di antara kami berempat. Kebisuan yang semakin mengiris keretakan di antara kami menjadi semakin dalam. Hingga akhirnya.
“Dev, semua ini gara-gara lo. Kalau kita gak ngikutin si culun itu ke toilet kita gak bakal kayak gini.” Kata Acha memulai perbincangan.
“Iya Dev, semua karena lo nih. Kalau kita gak dilulusin gimana? Emang lo bisa berbuat apa sama kita-kita?” Tambah Widi namun aku hanya diam.
“Ini kan SMA, seneng-seneng aja dulu.” Balas Vina seakan-akan dia cuma ngomong bahwa harga semangkuk bakso itu lima ribu perak.
“SMA, SMA, mikir Vin mikir.” Ujar Acha kesal.

Setelah kejadian itu akhirnya Acha, Widi dan Vina menjauhiku. Ketika aku berusaha mendekat, mereka malah menjauhiku. Sering aku usahakan begitu, namun hasilnya sama saja tetap nihil. Sekarang ini hanya satu yang menggambarkan hatiku: sepi. Aku sangat menyesal atas kejadian itu. Dengan malas-malasan dan tidak bersemangat. Aku mengaduk kembali es tehnya. Memperhatikan butiran-butiran gula yang belum larut, menyebar di antara es batu dalam gelas itu. Aku hanyut dalam lamunanku di meja kantin seorang diri. Tapi tiba-tiba seseorang menepuk pundakku dari belakang.

“Hei Dev, sendirian aja. Terus ngelamun lagi. Hati-hati kesambet loh.” Ucap Gilang padaku diiringi senyumnya yang manis seperti rasa dari es teh yang tengah diminumku tadi.

Aku agak terkejut, ku tatap Gilang sekilas, tapi entah kenapa aku merasa degupan jantung ini terlalu kacau. Ditambah lagi melihat senyumnya Gilang yang menawan sudah membuatku tak karuan. Aku merasa sebentar lagi akan kejang-kejang. Maka aku memutuskan untuk menunduk saja. Daripada aku kena serangan jantung di sebelah Gilang? Betapa memalukannya, mati muda di sebelah seorang pangeran. Berbicara soal Gilang, Gilang itu adalah orang yang aku suka sejak pertama kali masuk kelas 10 dulu. Jadi selama dua tahun lebih ini aku hanya bisa terpana dan mengagumi Gilang dari jauh. Tapi sekarang? Sejak kami berdua sekelas, aku mengenal dia lebih jauh dan begitupun dirinya padaku.

“Hehehe, iya nih.” Balasku singkat.
“Biasanya lo ke sini bareng anak-anak DiVA. Kok sekarang ini gue perhatiin lo jarang banget main sama mereka. Ada apa? Cerita-cerita dong Dev..” Tanyanya.
“Wah jadi selama ini lo merhatiin gue lang?” Mendengar kata-kata tadi, pipiku semakin berwarna dengan rona merah.
“Yee, geer banget lo. Udah cerita dong, penasaran nih…” Ujarnya.

Akhirnya aku ceritakan semuanya dari awal sampai saat ini. Dan dia memberiku gagasan untuk mendekati lagi dan meminta maaf kepada Acha, Widi, dan Vina. Aku pun mengiyakan saran dari Gilang. Setelah itu, aku mengakhiri perbincangan dengan Gilang di kantin. Saat itu aku langsung tancap gas menemui Acha, Widi dan Vina. Saat aku telah berhasil mencari mereka, awalnya mereka terus menjauhiku tanpa mau mendengarkanku. Aku berusaha mendekati dan meminta maaf kepada mereka, hingga akhirnya Acha, Widi dan Vina mau memaafkanku. Aku tersenyum lega saat mereka mau memaafkanku. Tak lupa saat itu pula aku dan ketiga sahabatku ini, meminta maaf kepada guru kami, Bu Indri yang kami guyurkan seember air. Juga kepada Ratna yang kami sering jadikan bahan bully-an.

Sejak saat itu kami berempat berjanji untuk mengubah sikap buruk kami menjadi yang lebih baik. Belajar, belajar, dan belajar serta fokus pada UN. Tak lupa kami iringi dengan doa serta restu dari orangtua untuk mencapai tujuan dan cita-cita kami masing-masing. Hingga saatnya tiba, hari dimana kami semua mengikuti ujian dengan penuh ketegangan dan akhirnya perjuangan kami tak sia-sia, semua lulus UN dan mendapatkan nilai yang memuaskan.

Ku tutupkan album foto itu sambil tersenyum melihat kisah-kisah gokil yang pernah ku alami selama di SMA saat itu. Aku sangat merindukan mereka. Kini. Kini aku telah menjadi seorang istri dari Gilang, teman SMA-ku dulu. Dia yang membuatku jatuh cinta padanya, yang dulu aku gila-gilakan, yang menurutku adalah bintang yang selalu menggantung di antara galaksi, selalu bersinar meskipun malam tak pernah menawarkan kehangatan, yang entah sejak kapan perasaan sederhana itu tumbuh begitu saja seiring berjalannya waktu.

Hingga akhirnya aku telah bersamanya sampai hari ini. Hari ini, adalah hari aku dan Gilang akan mendatangi acara reuni SMA kami di sebuah tempat. Saat sampai di sana aku, Acha, Widi dan Vina saling berpelukkan. Pelukan yang mewakili perasaan rindu atas kebersamaan kami berempat. Perasaan itu meluap dengan saling berbagi cerita-cerita di masa itu tentang kisah-kisah gokil kami di SMA

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s